Viral Menu Makan Bergizi Gratis SMP Ampelgading Disorot

Potret menu 'Makan Bergizi Gratis' di SMP 1 Ampelgading yang hanya berupa telur, rambutan, dan susu saset viral, memicu kritik tajam netizen soal anggaran.

Admin

Sebuah unggahan foto yang memperlihatkan menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) di lingkungan SMP 1 Ampelgading, Kabupaten Pekalongan, mendadak menjadi pusat perhatian publik. Dalam foto yang beredar luas, tampak paket asupan yang sangat sederhana, hanya berupa sebutir telur rebus dalam plastik, tiga butir rambutan, dan satu saset susu bantal.

Potret menu yang terkesan sangat minimalis ini segera memicu perdebatan panas di media sosial, terutama mengenai standar nutrisi yang dijanjikan dalam program tersebut demi mendukung generasi menuju Indonesia Emas 2045. Unggahan tersebut terpantau dibanjiri lebih dari 1.000 komentar, yang mayoritas menyuarakan kritik tajam dan sindiran terkait realita di lapangan, yang dinilai jauh dari ekspektasi dibandingkan dengan anggaran yang dialokasikan.

Banyak netizen yang langsung melakukan kalkulasi harga pasar secara sarkastik. Salah satu komentar menuliskan, “Rambutan 1.000, telur 2.000, susu 2.000. Total 5 ribu. Sisanya mungkin masuk laporan 15.000 ya bolo?” Sentimen serupa juga muncul dari warga lain yang menganggap porsi ini terlalu ekonomis untuk sebuah program nasional, “Susu 5rb, telur 5rb, rambutan 5rb. Pas 15 ribu! Cepat kaya pokoknya kalau jualan di pasar begini.”

Tak hanya soal harga, isu transparansi anggaran juga menjadi sorotan utama dalam ribuan komentar tersebut. Beberapa kutipan tajam menyebutkan bahwa menu ini merupakan “maling berkedok gizi yang sedang berpesta pora,” sementara yang lain dengan nada pasrah berkomentar, “Gratis saja ada yang bicara, apalagi bayar. Positif thinking saja, mungkin ini menu diet biar siswanya tidak mengantuk karena kekenyangan.”

Hingga saat ini, foto menu minimalis di area SMP 1 Ampelgading tersebut masih terus dibagikan sebagai bahan evaluasi oleh masyarakat. Publik sangat berharap ada pengawasan yang lebih ketat dari pihak terkait agar kualitas makanan yang sampai ke tangan siswa benar-benar menunjang pertumbuhan dan perkembangan mereka, bukan sekadar menggugurkan kewajiban dokumentasi laporan program semata.

Tags

Related Post

Leave a Comment