Yuk Perhatikan Masalah Lingkungan dan Kesehatan

Kota Pekalongan – Masalah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari sering dianggap sepele. Padahal, kontribusi lingkungan dalam mewujudkan derajat kesehatan merupakan hal yang mendasar di samping masalah perilaku masyarakat, pelayanan kesehatan, dan faktor keturunan. Lingkungan memberikan kontribusi terbesar terhadap timbulnya masalah kesehatan masyarakat.

Sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan kesehatan, Kepala Dinas Kesehatan Kota Pekalongan, Dr Slamet Budiyanto SKM MKes menganalisis dampak cemaran limbah timbal (Pb) terhadap air sumur serta pengaruhnya terhadap kadar timbal dan kadar hemoglobin pada darah penduduk di Sentra Industri Batik Jenggot Kota Pekalongan.

Doktor Budi ingin melihat dampak Pb terhadap kandungan Pb air sumur gali dan darah penduduk serta pengaruhnya terhadap kejadian anemia di Sentra Batik Jenggot sehingga dapat merumuskan strategi yang tepat untuk pengelolaan air limbah batik suatu sentra industri batik menuju industri batik yang ramah lingkungan dan tidak membahayakan bagi kesehatan masyarakat. Hal ini disampaikan Budi saat diseminasi penelitian di Ruang Jetayu Setda Kota Pekalongan.

Dengan menggunakan sampel peneletian berupa 67 air limbah outlet, 67 air limbah genangan, 210 air sumur gali, dan 210 sampel darah, Budi menganalisis penelitian ini.

“Dari 203 ada 67 industri/produsen yang beroperasi lainnya Borongan ke tempat lain. 100% pengusaha menggunakan zat warna sintetis yang dimasukkan dalam 4 golongan yaitu napthol, remasol, indigozol, dan reaktif. Untuk jenis industri di Sentra Industri Batik Jenggot ini ada cap, cuci jeans, cuci kain, cuci kain sablon, embos, jumputan, kerajinan tangan, kombinasi, printing, sablon, dan sarung dengan rata-rata produksi 17,43 kodi perhari ,dengan angka minimum 0,5 kodi perhari, dan angka maksimum 150 kodi perhari,” papar Budi.

Budi mengajak agar masyarakat Kota Pekalongan semakin peduli terhadap lingkungan melihat hasil dari penelitiannya terdapat pengaruh antara satu dengan lainnya.

“Strategi dan upaya yang dapat dilakukan dalam pengelolaan dan penanggulangan pencemaran limbah batik yakni mengintegrasikan komitmen secara kuat dan berbagai sector terkait dengan membentuk Pokja Penanganan Limbah Batik, melakukan MoU antara Pemerintah Kota Pekalongan dan Pemerintah Kabupaten Pekalongan dalam misi mengatasi dampak cemaran limbah batik, peraturan daerah dan peraturan pelaksanaan di bawahnya diinseminasi kepada seluruh warga khususnya pelaku industri batik tentang larangan sekaligus sanksi tegas bagi yang membuang limbah batik langsung ke saluran terbuka permukiman/sungai,” jelas Budi.

Advertisement

Selain itu, hal yang dapat dilakukan yakni pemberian reward bagi pelaku industri batik yang mengelola limbah secara baik, integrasi sumber dana baik yang berasal dari pemerintah dan swadaya, dan produsen batik dalam mewujudkan IPAL komunal atau IPAL skala industry rumah tangga.

“Subsidi kepada industri batik kelas kecil yang tidak mampu membuat IPAL serta dibentuknya komunitas perajin batik peduli lingkungan dengan dibarengi kegiatan pro-aktif seperti iuran pengelolaan IPAL bersama atau membuat kampung batik ramah lingkungan,” terang Budi.

Kebaruan yang ditemukan Budi yakni jarak sumur terhadap sumber pencemar > 10 meter belum menjamin aman terhadap pencemaran logam berat Pb, ini menjadi masukan dalam perumusan kebijakan khususnya bidang penataan ruang dan permukiman.

“Belum adanya efek penurunan Hb pada penduduk dengan kadar Pb dalam darah yang jauh melebihi ambang batas menjadi Erly Warning bagi penentu kebijakan untuk mengambil langkah antisipasi agar tidak terjadi dampak buruk lainnya yang mungkin terjadi di bidang kesehatan masyarakat dan lingkungan,” ungkap Budi.

Sementara itu, Walikota Pekalongan HM Saelany Machfudz SE berharap agar hasil penelitian ini tak hanya menjadi tumpukan file tetapi dapat diimplikasikan di masyarakat. Penelitian yang telah dilakukan yang mendukung kemajuan Kota Pekalongan harus didukung dengan baik. “Mudah-mudahan penelitian ini dapat diimplementasikan di masyarakat, tak hanya dari OPD terkait, komunitas, organisasi, dan masyarakat umum juga mendukung program ini,” pungkas Saelany.

Sumber Dinkominfo Kota Pekalongan

Berbagi ke. . .
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: