UMKM Bangkit, Inovasi Perajin Batik Tulis di Tengah Pandemi

Kota Pekalongan – Adanya pandemi Covid-19 tak menyurutkan semangat para perajin batik di Kota Pekalongan. Covid-19 memang telah membuat ekonomi masyarakat terpuruk yang berimbas ke pendapatan para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), seperti yang dialami oleh para perajin batik karena daya beli masyarakat juga ikut turun.

Terancam? Sudah pasti. Hal yang harus dilakukan adalah bangkit dan membuat inovasi. Tim Komunikasi Publik Dinkominfo Kota Pekalongan menelusuri kegiatan para perajin batik di Kampung Batik Kauman, Kelurahan Kauman Kecamatan Pekalongan Timur, Kota Pekalongan, Rabu (16/9/2020). Luar biasa, aktivitas para perajin batik tulis di Kampung Batik Kauman masih berjalan sebagaimana mestinya.

Ada yang berbeda, jika batik tulis yang mereka buat biasanya untuk membuat pakaian dan sarung kali ini pemasaran yang sedang naik adalah kerudung batik tulis. Batik tulis proses pengerjaannya masih mempertahankan cara tradisional yakni dengan menorehkan malam atau lilin panas ke atas kain. Hasil yang didapatkan tentu adalah selembar kerudung yang elegan dipakai.

Seorang perajin batik tulis di Kampung Batik Kauman, Faza mengaku aktivitas di tempat produksinya masih berjalan meskipun adanya pandemi ini. “Kami berupaya untuk bertahan agar batik tulis tetap digemari banyak orang. Ini kami banyak membuat kerudung untuk fashion kaum hawa. Kerudung batik tulis yang ekslusif, berkualitas dan fashionable,” tandas Faza.

Banyaknya kain dengan motif batik (printing) di pasaran tak membuat Faza enggan melestarikan batik tulis. Faza menunjukkan beberapa proses membatik di tempat produksinya yakni ada 12 proses (1) Nyungging, yaitu membuat pola atau motif batik pada kertas, (2) Njaplak, memindahkan pola dari kertas ke kain, (3) Nglowong, melekatkan malam di kain dengan canting sesuai pola, (4) Ngiseni, memberikan motif isen-isen (isian) atau variasi pada ornamen utama yang sudah dilengreng atau dilekatkan dengan malam menggunakan canting, (5) Nyolet, mewarnai bagian-bagian tertentu dengan kuas, (6) Mopok, menutup bagian yang dicolet dengan malam, (7) Ngelir, melakukan proses pewarnaan kain secara menyeluruh, (8) Nglorod, proses pertama meluruhkan malam dengan merendam kain di dalam air mendidih, (9) Ngrentesi, memberikan cecek atau titik pada klowongan (garis-garis gambar pada ornamen utama, (10) Nyumri, menutup kembali bagian tertentu dengan malam, (11) Nyoja, mencelupkan kain dengan warna coklat, atau sogan, dan (12) Nglorod, proses peluruhan malam kembali dengan cara merendam kain di dalam air mendidih.

Sumber Tim Komunikasi Publik Dinkominfo Kota Pekalongan

Berbagi ke. . .
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *