Kota Pekalongan – Perkembangan industri pembuatan batik di Kota Pekalongan Jawa Tengah di satu sisi memang tumbuh dengan pesat. Namun di sisi lain, dampak negatif dari industri tersebut sekarang ini kian terasa yakni air sungai menjadi keruh dan hitam. Pasalnya, saat ini masih banyak pengusaha industri batik skala besar maupun rumah yang membuang limbah hasil produksinya langsung ke selokan maupun ke sungai tanpa diolah terlebih dahulu. Pembuangan limbah tanpa pengolahan mengakibatkan
kondisi tanah didaerah sekitar mulai berubah dan pencemaran sungai. Limbah industri batik dari bahan pewarna kimia yang digunakan sulit untuk diurai sehingga menyebabkan sejumlah selokan dan sungai di Pekalongan menjadi berwarna dan
berbau.


Menyikapi hal tersebut, Komunitas Peduli Kali Lodji (KPKL) menginisiasi kolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Mountrash Avatar Indonesia dan Pemerintah Kota Pekalongan untuk bersama-sama mencari solusi Aksi Penyelamatan Kali Lodji. Upaya tersebut yakni dengan melakukan uji coba teknologi pengolahan air limbah batik dengan bio produk enzymatik dan Polyglu dan uji coba dropbox sampah digital,bertempat di Ruang Amarta Setda Kota Pekalongan,baru-baru ini.

Ketua KPKL Kota Pekalongan, Titik Nuraini menjelaskan bahwa, konsep yang dilakukan adalah bagaimana teknologi tersebut,salah satunya bio produk enzymatik bisa diterapkan di seluruh industri yang ada di Kota Pekalongan.


“Kami sudah dua kali uji coba terhadap industri printing dan batik cap dan jeans yakni di 2 UMKM Batik yaitu Jacky Batik dan Batik Putri Kembar dan hasilnya berhasil. Jika semua UMKM di Kota Pekalongan ini menggunakan enzymatik, otomatis aliran air ke sungai sudah sesuai baku mutu sehingga tidak lagi mencemari sungai. Selain dengan BRIN, kami juga mengajak kolaborasi dengan akademisi Dr Subekti,ST,MT mengenai ujicoba pasir Serra hasil pemanfaatan sampah yang ada di TPA untuk menjernihkan air. Dimana, pasir olahan yang dihasilkan ini mampu mendegradasi sungai, air lindi,bahkan air pantai bisa digunakan untuk air minum,mengingat krisis air bersih di Kota Pekalongan cukup memprihatinkan,sehingga kami ingin mencoba menerapkan disini,” terang Titik.

Titik menyebutkan, masalah pencemaran sungai bukan hanya disebabkan dari limbah, melainkan juga dari sampah,sehingga pihaknya menyatakan telah menjalin bekerjasama dengan Avatar Indonesia untuk menangani sampah dari sumbernya yakni melalui Ujicoba Dropbox Digital serta menginisiasi penerapan bank sampah digital.


“Selama ini bank sampah yang ada masih sedikit dan konvensional ,sehingga di era serba digital ini, kami mencoba menggerakkan semua rumah tangga untuk menggunakan teknologi digital dan disini ada penyerapan sampahnya,kami mengajak masyarakat untuk bisa mendapatkan insentif dengan menempatkan sampah di bank sampah,baik melalui dropbox ada atm sampahnya,sehingga masyarakat tidak sulit lagi mencari bank sampah konvensional. Kami berharap, penerapan upaya teknologi ini bisa diterapkan dalam skala besar ke depannya,agar industri batik di Kota Pekalongan semakin berkembang,pencemaran sungai berkurang dan masyarakat bisa semakin sejahtera,” harap Titik.

Perwakilan BRIN, Dr Dede Heri Yuli Yanto,M Agr memaparkan ujicoba teknologi enzymatik dan polyglu,dimana dalam teknologi ini menggunakan mikop yang menghasilkan enzym yang akan mendegradasi/memakan pewarna dari air limbah yang dihasilkan sehingga air menjadi jernih dan hasil proses degradasi tersebut akan menghasilkan CO2dan H2O agar nantinya tidak menghasilkan limbah sampingan.

“Teknik flokulasi itu teknik dengan secara kimia maupun menggunakan bahan hayati untuk mengikat pewarna sehingga pewarna tersebut akan mengendap dan air akan menjadi jernih,sehingga akan menghasilkan endapan lagi yang nantinya harus dikeringkan/disimpan. Penelitian ini sudah lama dan sudah diuji cobakan dengan berbagai jenis limbah yang dihasilkan dari UMKM Kota Pekalongan dan dinilai sudah berhasil hanya saja saat ini masih skala laboratorium. Sedangkan,minggu kemarin sudah skala besar mudah-mudahan teknologi ini bisa berhasil dan siap diaplikasikan di Kota Pekalongan,” papar Dede.

Dede menerangkan,kapasitas penampungan limbah dalam pemanfaatan teknologi enzymatic ini besarannya tergantung bak penampungan yang sudah ada maupun sistem IPAL yang digunakan UMKM tersebut. Untuk anggaran yang dialokasikan untuk teknologi ini kisaran Rp6 juta dengan kapasitas 1 ton produksi.


“Harapannya Pemprov ataupun Pemkot setempat bisa terus bekerjasama dengan BRIN untuk memproduksi secara massal dan diaplikasikan ke UMKM untuk menjadi percontohan,jika ini sudah sukses berhasil,air limbah lain akan diujicobakan juga dan bisa diperbanyak untuk UMKM Kota Pekalongan khususnya yang berada di sepanjang Kali Lodji secara bertahap,” beber Dede.

Upaya-upaya penanganan ini diapresiasi oleh Pemerintah Kota Pekalongan yang diwakilkan oleh Sekretaris Daerah Kota Pekalongan,Hj Sri Ruminingsih,SE,MSi. Sekda Ning,sapaan akrabnya menyampaikan apresiasi dan terimakasih atas inisiasi bersama terkait dengan pengolahan limbah batik di Kota Pekalongan yang bisa diolah secara green economy sesuai dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals atau SDGs).

“Oleh karena itu,harapannya solusi yang sekarang belum teratasi secara masif,mudah-mudahan dengan adanya inovasi ini bisa memberikan harapan Kota Pekalongan dalam mengolah limbah batik dengan semakin baik secara green economy,”pungkas Sekda Ning.

(Tim Komunikasi Publik Dinkominfo Kota Pekalongan)

Berbagi ke. . .
Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *