Pemkot Gandeng Peneliti Unsoed Tangani Pencemaran Perairan Akibat Limbah TekstilKota Pekalongan

Kota Pekalongan, Jawa Tengah, selama ini dikenal sebagai sentra batik. Selain sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai perajin batik, industri besar seperti tekstil juga tumbuh subur di kota tersebut. Seiring tumbuhnya industri tersebut, peningkatan jumlah volume limbah yang dikeluarkan dari aktivitas tersebut pun kian melonjak. Berbagai upaya pemerintah Kota Pekalongan pun telah dilakukan seperti membangun Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) untuk mengurangi pencemaran limbah industri ke beberapa sungai pun belum sepenuhnya optimal. Oleh karena itu, Pemerintah Kota Pekalongan melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) setempat menggandeng Peneliti dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Jenderal Soedirman (Unsoed) yang berhasil menciptakan alat pembersih limbah baik tekstil ataupun batik dengan memanfaatkan sejumlah jenis jamur.

Walikota Pekalongan, HM Saelany Machfudz, SE menyampaikan bahwa industri batik maupun tekstil yang dikelola masyarakat menyebabkan banyaknya air limbah yang dihasilkan dan mencemari sungai-sungai di Kota Pekalongan. Untuk memfasiltiasi hal tersebut, Pemkot telah membangun 5 buah IPAL di beberapa titik, dan menerima bantuan IPAL komunal dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) yang diharapkan masyarakat dapat mengoptimalkan dengan tidak membuang sampah langsung ke saluran air. “Namun IPAL yang ada ini belum semuanya berfungsi dan masih kurang. Pemkot berupaya melaksanakan fasilitasi yang menjembatani seluruh kepentingan masyarakat dalam meningkatkan derajat kesejahterann masyarakat. Namun, kami mengaku sulit mengendalikan bibit limbah yang mencemari sungai-sungai di Kota Pekalongan, mengingat limbah yg bermuara di Kota Pekalongan tidak berasal dari kota saja tetapi juga dari hulu, Kabupaten Pekalongan dan sekitarnya, ” terang Saelany saat membuka kegiatan Upaya Penanganan Pencemaran Perairan Akibat Kegiatan Non Perikanan (Limbah Tekstil) yang Berdampak pada Sektor Perikanan dan Kelautan di Kota Pekalongan, bertempat di Ruang Jetayu Setda Kota Pekalongan, Jumat(20/11/2020).

Saelany berharap dengan digelarnya kegiatan ini ke depan akan segera ditemukan solusi khusus penanganan limbah tekstil agar sektor perikanan dan kelautan tidak terus-menerus dicemari limbah tersebut.

Kepala Bappeda Kota Pekalongan,Ir Anita Heru Kusumorini,MSc mengungkapkan bahwa penanganan limbah menjadi problema yang harus segera dituntaskan, karena pencemaran di sungai Kota Pekalongan sudah cukup parah. Bahkan, IPAL yg dibuat oleh DLH pun dinilai belum berfungsi optimal karena kondisi Kota Pekalongan yang relatif datar sehingga ada limbah industri yang tidak bisa dialirkan ke IPAL. Menurut Anita, perlu upaya lagi agar limbah dari industri kecil dan rumah tangga bisa terolah maksimal sehingga air dari proses limbah ketika masuk ke sungai bisa bersih.

“Alhamdulillah, kami menyambut baik saat ini sudah ada penelitian dari Unsoed bekerjasama dengan PSDKP Cilacap untuk menanganai limbah perairan khususnya bidang perikanan dan kelautan. Kami berharap hasil diseminasi hasil penelitian dari narasumber yang hadir, Dr Ratna Stia Dewi ini yang juga ke depan melibatkan pula pengusaha dan CSR bisa menjadikan Kota Pekalongan ini bebas limbah dan penampungan air di longstorage dan polder jika tidak tercemar bisa dimanfaatkan sebagai sumber air baku untuk sumber air minum di Kota Pekalongan,”jelas Anita. Selaku narasumber yang merupakan peneliti dari LPPM Unsoed dan Dosen Biologi Unsoed ini menawarkan 3 konsep yang telah dipatenkan yakni yang pertama filter bertingkat (portable) yang bisa masuk ke gang-gang sempit berskala kecil hingga besar dengan bahan aktif jamur. Kemudian, kincir air dengan bahan aktif jamur juga yang diaplikasikan untuk ditampung dalam suatu areal terdekat (RT) sebelum dibuang ke sungai untuk mengurangi konsentrasi polutan yang ada di lingkungan. Selanjutnya solusi ketiga, menggunakan bioreaktor dengan zero waste dengan hasil degradasi warna bisa digunakan untuk bioetanol dan pupuk organik cair. “Kami menekankan para penggiat industri yang masih belum sadar betul ini bisa diperbaiki mindsetnya bahwa pembuangan limbah ke sungai sangat berdampak buruk bagi kesehatan manusia dan ekosistem lingkungan,mikroorganisme didalamnya. Dan kami berharap hasil penelitian ini bisa aplikasikan di Kota Pekalongan sebagai alternatif solusi penanganan limbah yang menjadi masalah di sungai bisa diatasi,” tandasnya.

(Tim Komunikasi Publik Dinkominfo Kota Pekalongan)

Berbagi ke. . .
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: