Khamenei Tewas, Iran Tutup Hormuz: Timur Tengah Memanas, BBM RI Naik

Kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, memicu balasan masif dari Iran, termasuk penutupan Selat Hormuz dan serangan rudal. Konflik ini mendorong kenaikan harga minyak global dan berdampak langsung pada harga BBM nonsubsidi di Indonesia.

Admin

Dunia diguncang oleh peristiwa geopolitik yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menghantam Teheran pada Sabtu pagi, 28 Februari 2026. Sebagai respons cepat, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran segera menutup Selat Hormuz — jalur minyak tersibuk di dunia — dan melancarkan serangan rudal ke wilayah Israel serta puluhan pangkalan militer AS di Timur Tengah. Eskalasi konflik ini menciptakan gelombang guncangan yang terasa hingga ke pasar energi global dan harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia.

Kematian Ayatollah Ali Khamenei, yang telah memimpin Iran selama 36 tahun sejak 1989, dikonfirmasi oleh televisi pemerintah Iran pada Minggu, 1 Maret 2026. Laporan menyebutkan puluhan bom dijatuhkan ke kompleks kediamannya di Teheran, dengan citra satelit memperlihatkan kerusakan masif. Serangan itu juga menyasar kota-kota lain dan menewaskan ratusan orang, termasuk anggota keluarga Khamenei serta komandan militer senior Iran. Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu segera mengklaim keberhasilan operasi tersebut.

Tidak tinggal diam, Iran membalas dengan meluncurkan rudal besar-besaran ke pusat-pusat kota di Israel, termasuk Tel Aviv, Haifa, dan Safed. Selain itu, setidaknya 14 pangkalan militer AS di seluruh Timur Tengah turut menjadi sasaran, mengakibatkan ratusan tentara dilaporkan tewas. Bahrain bahkan mengonfirmasi markas besar Armada Kelima Angkatan Laut AS di negaranya juga terkena rudal Iran. Sirene peringatan serangan udara berbunyi di beberapa negara Teluk, menandakan meluasnya ketegangan.

Langkah paling berdampak secara global adalah penutupan Selat Hormuz oleh IRGC. Selat ini merupakan jalur laut sempit yang menjadi arteri utama bagi hampir 30 persen pasokan minyak dunia setiap harinya, dengan 82 persen minyak yang melintas ditujukan ke Asia. Akibat penutupan ini, harga minyak mentah Brent yang sebelumnya sudah bergejolak, diperkirakan akan melonjak drastis, dengan analis memproyeksikan bisa menembus $100 hingga $150 per barel jika konflik berlanjut.

Guncangan di Selat Hormuz segera berimbas ke Indonesia. Tepat pada 1 Maret 2026, PT Pertamina resmi menaikkan harga BBM nonsubsidi di seluruh SPBU. Meskipun disebut sebagai penyesuaian periodik, kenaikan ini tidak bisa dilepaskan dari gejolak geopolitik Timur Tengah yang mendorong harga minyak mentah Brent mencapai kisaran $85 per barel dan nilai tukar rupiah melemah. Pertamax (RON 92) naik menjadi Rp12.300/liter dari Rp11.800, Pertamax Green (RON 95) menjadi Rp12.900/liter, dan jenis BBM nonsubsidi lainnya juga mengalami kenaikan.

Para ekonom Indonesia memperingatkan dampak yang lebih luas, termasuk potensi peningkatan beban subsidi BBM pemerintah dan kenaikan inflasi. Kenaikan harga solar bisa mendorong biaya logistik truk hingga 12 persen, yang pada akhirnya memicu kenaikan harga barang kebutuhan pokok. Dewan Keamanan PBB telah menggelar pertemuan darurat, sementara Presiden Prabowo Subianto menyerukan de-eskalasi dan dilaporkan siap memediasi. Situasi di Timur Tengah yang semakin genting ini meninggalkan pertanyaan besar tentang masa depan Iran, kelanjutan serangan, nasib Selat Hormuz, dan dampaknya yang meluas ke perekonomian global, termasuk kantong masyarakat Indonesia.

Tags

Related Post

Leave a Comment

×