Maknai Pergantian Tahun sebagai Momentum Hijrah Kebaikan

Tahun baru segera tiba. Sebagian masyarakat menyambutnya dengan pesta kembang api, bakar-bakar, dan berbagai bentuk perayaan lain yang kerap berlebihan. Dalam perspektif Islam, muncul pertanyaan:

Admin

👁️ 9 kali dilihat

Tahun baru segera tiba. Sebagian masyarakat menyambutnya dengan pesta kembang api, bakar-bakar, dan berbagai bentuk perayaan lain yang kerap berlebihan. Dalam perspektif Islam, muncul pertanyaan: bagaimana seharusnya seorang muslim memandang momentum pergantian tahun ini? Alih-alih larut dalam euforia, pergantian tahun dapat dimaknai sebagai kesempatan untuk berhijrah menuju kebaikan.

Diskursus keagamaan mengenai perayaan tahun baru Masehi bukan hal baru. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin pernah mengingatkan bahwa suatu perayaan, jika dilakukan secara berlebihan dan menyerupai ritual kaum lain, berpotensi termasuk dalam kategori tasyabbuh, yakni meniru kebiasaan non-muslim. Prinsip ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 120 yang mengingatkan agar umat Islam tidak mengikuti jalan hidup yang bertentangan dengan syariat. Karena itu, bagi seorang muslim, khususnya santri, pergantian tahun sepatutnya dimaknai sebagai momentum spiritual dan ruang refleksi diri.

Memang terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Sebagian membolehkan perayaan selama tidak menyerupai ritual agama lain, tidak berlebihan, serta bebas dari unsur kemaksiatan seperti israf, khamr, atau ikhtilat. Dalam batas tersebut, aktivitas sosial dinilai tetap berada dalam koridor yang diperkenankan.

Namun, dibanding terseret pada hiruk-pikuk perayaan, seorang muslim dapat memilih fokus pada dua amalan utama: muhasabah dan tajdidun niyah. Muhasabah berarti menilai kembali perjalanan setahun terakhir, menimbang kualitas ibadah, memperbaiki akhlak, dan menyadari kekurangan diri. Setelah itu, tajdidun niyah dilakukan dengan meluruskan niat, memperkuat tekad, dan merancang langkah yang lebih baik untuk tahun mendatang. Di sinilah esensi hijrah kebaikan menemukan maknanya.

Pada akhirnya, pergantian tahun bukan sekadar perubahan angka dalam kalender. Ia bisa menjadi titik balik menuju peningkatan kualitas diri: lebih tekun menuntut ilmu, lebih khusyuk beribadah, dan lebih matang dalam akhlak. Energi yang biasanya habis untuk euforia sesaat dapat dialihkan menjadi investasi spiritual yang berdampak jangka panjang.

Penulis: M. Lays Nasywa

Tags

Related Post

×