PEKALONGAN, 4-5 Juli 2022 – Beberapa wilayah pesisir pantai utara di Jawa Tengah mengalami penurunan tanah yang cukup ekstrim dan ancaman perubahan iklim hingga disebut para pakar ahli lingkungan, akan tenggelam. Menurut Heri Andreas, pakar geodesi ITB, area yang rentan tenggelam adalah Semarang, Pekalongan dan Demak.
Bahkan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, pernah mengatakan, sekitar 45 persen wilayah Kota Pekalongan terancam tenggelam.
Fakta ini membuktikan bahwa ancaman perubahan iklim adalah nyata dan harus menjadi perhatian semua orang. Perhatian pada ancaman perubahan iklim harus dilakukan lebih intensif dari level kebijakan hingga ke akar rumput. Anak muda sebagai kelompok yang akan menjadi agen perubahan di masa depan, sudah mulai beraksi menunjukkan kepedulian terhadap perubahan iklim. Mulai dari komunitas advokasi, pemilahan sampah, penghijauan dan masih banyak lagi.
Kolaborasi Bareng Pemuda Pekalongan (KOBAR PEKALONGAN) untuk Perubahan Iklim merupakan rangkaian kegiatan 4 hari 3 malam dari 3-6 Juli 2022 yang diadakan di Grand Valley, Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. KOBAR Pekalongan diikuti peserta berusia 16-25 tahun yang masuk 100 besar kompetisi Aksi Generasi Muda Adaptasi Perubahan Iklim Kota Pekalongan yang diadakan bulan Juni lalu.
KOBAR Pekalongan diselenggarakan oleh Kemitraan Bagi Pembaruan Tata Pemerintahan atau KEMITRAAN dengan dukungan Adaptation Fund, Pemerintah Kota Pekalongan dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Direktur Program Sustainable Governance Strategic KEMITRAAN, Dewi Rizki mengatakan,

“Acara KOBAR Pekalongan bertujuan untuk semakin memperdalam kesadaran dan pemahaman generasi muda Pekalongan tentang dampak nyata perubahan iklim. Generasi muda Pekalongan dapat memainkan peran penting sebagai pelaku dan penggerak masyarakat dalam upaya penyadaran publik terkait perubahan iklim. Oleh karena itu, kami berharap KOBAR Pekalongan akan mendorong aksi perubahan iklim, dari, oleh dan untuk anak muda.”
Selama kegiatan, peserta diajak berdiskusi tentang perubahan iklim hingga melihat langsung fenomena nyata yang sudah terjadi. Mereka juga belajar membuat kampanye sosial lewat foto, video, dan public speaking. Selain itu peserta merencanakan aksi dan kolaborasi nyata anak muda Pekalongan untuk menghambat perubahan iklim. Untuk
mewujudkan aksi dan kolaborasi nyata tersebut, peserta mendapatkan kesempatan untuk berdialog dengan perwakilan pemerintah.


